Showing posts with label another posts. Show all posts
Showing posts with label another posts. Show all posts

Sunday, October 26, 2014

I Love Reading (Bukan Post Tentang Tugas Reading)

I enjoy reading books. I mean, I love to read anything--school book is an exception. Sejak kecil.

Pertama kenal buku itu komik. Yep, komik. I was in love with Mbak Dini's bookshelf which was full with books. Setiap ke rumahnya, gue selalu berdiri mematung di depan rak, pingin baca tapi bingung mau baca yang mana. Akhirnya diambilin satu komik sama Mbak Dini: Doraemon vol. 43. Komiknya masih komik jadul, ada sampulnya gitu. Jadi masih cover yang di balik sampulnya ada cover lagi gitu. Nah, komik itu lah yang menjadi komik pertama yang gue punya. Karena kemudian komik itu ga pernah gue balikin.

Bermula dari sana, gue jadi gemar membaca Doraemon. Komik Doraemon yang pertama gue beli adalah Doraemon vol. 45. Saat itu harganya masih Rp 9.500,- saja. Karena waktu itu masih SD dan belom terlalu ngerti koleksi, jadi komik yang tadi itu gue corat-coret. Dan sejak itu, gue mulai beli komik Doraemon yang lain. Tapi beberapa waktu kemudian, gue dikenalin sama komik Detektif Conan oleh ayahnya Fitria, Pak Budi. Ternyata, Pak Budi punya satu lemari rahasia (yang sebelomnya gue pikir lemari baju) yang penuh dengan komik. Hell. Sejak itu, saya langsung addicted dengan komik Conan. Sampe ngegambar-gambar tokohnya segala. Sampe mas pacar waktu itu ngelukis gambar Conan buat pameran #eh #lupakan

Tuaan dikit, bacaan gue mulai bagusan dikit: novel. Pertama dikenalin novel sama Litany. Dia minjemin gue novelnya Meg Cabot yang All American Girl yang sebenernya punya Thea. Pikiran SMP gue berpikir, buku itu keren pake banget! Tapi pikiran SMP gue berpikir lagi, mungkin gue harus nulis novel. A hand-written one. Di buku sidu. Yap. Gue sempet nulis novel itu sampe beberapa chapter sebelum gue sadar, nulis novel pake tangan itu tidak mungkin terjadi. Kebegoan itu terjadi setelah gue baca novel yang dipinjemin Litany (lagi)--tapi kali ini novelnya dia sendiri--Pulling Prince. Bahasa Indonesianya: Menggaet Pangeran.

Berhubung pertama kali baca novel itu teenlit terjemahan, maka waktu gue ke toko buku, gue tergerak untuk membeli teenlit terjemahan. Jadilah gue membeli teenlit untuk pertama kalinya yang berjudul Angus, Thongs and Full-Frontal Snogging. Bahasa Indonesianya: Angus Si Kucing Jutek dan Kursus Ciuman. Yep. Dengan begitu, di umur 13 tahun, gue sudah menjadi ahli (baca: mengetahui tanpa mempraktekkan) french kiss. Dan sedikit bahasa Prancis. Dan Herr Kamyer.

Tuaan dikit lagi, gue kenal sama Dichan. Ternyata dia punya bookshelf yang lebih super dari Mbak Dini di kamarnya. Lebih banyak komik dan lebih banyak novel. Gila. Kemudian hampir tiap minggu gue minjem komik sama Dichan. Terimakasih, Dichan. Aku kangen kamu. Dan kamarmu. O iya, berkat Dichan, aku jadi kenal Sitta Karina dan cowok-cowok Hanafiah yang hermoso.

SMA, gue ketemu Ines. Maka kamudian gue bertualang ke berbagai alam bayangan ciptaan Michael Scott dan menggila dengan Supernova-nya Dewi Lestari. Ketemu Kugy dan Keenan, dan beringasan cari Madre di Jogja. Lalu gue ketemu Anin. Dan gue teracuni oleh vampiri-vampir fantasi yang (katanya) ganteng tapi naksir sama manusia yang tidak mensyukuri hidupnya sendiri. Kemudian ketemu Assifa. Sama aja. Pernah pas disuruh bawa novel buat diresensi, kami bawa novel yang sama: The Sorceress. Hahaha. Tapi dia tidak menularkan kegemarannya baca Cambridge ke gue sih. Atau lebih tepatnya, gue tidak mau tertular. Anyway, dia yang menginspirasi gue untuk membaca buku berbahasa Inggris. Dan menginspirasi gue untuk mendownlad (baca: membajak) e-book.

Kebiasaan baca itu berlanjut sampe sekarang. Berhubung gue kuliah bahasa, gue sekarang juga baca artikel-artikel di BBC dan The Jakarta Post (sok-sokan bisa bahasa Inggris) (padahal mah buat tugas reading). Gue juga suka banget baca kamus, sampe kamus gue terbelah-belah (padahal terbelahnya karna itu kamus KW seharga Rp 10.000,- saja).

Semester empat, gue ketemu And/Or Bookstore. Nirwana di atas Roti Papi di Gejayan. Isinya buku non terjemahan semua. Walaupun bukan buku baru, tapi gue berhasil dapet buku yang masih bagus di sana: All American Girl. Haha sama aja boong ya, beli buku yang udah tau ceritanya begimana. Tapi gak apa-apa. Itu adalah kegiatan yang dilakukan atas paksaan kuliah reading-nya Ms. Wati tercinta untuk meresensi novel luar (walaupun novelnya ga jadi dipake buat tugas Ms. Wati).

Nah di semester lima, gue menemukan surga kecil di Terban: KK. KK itu tempat rental terkece se-Jogja, yang ada cabang-cabangnya segala (yang berarti surganya bercabang). Gue mulai kenal Tris dan Four, dan Percy Jackson, dan Katniss Everdeen. Telat ya baru kenal Katniss pas semester lima? Maapin, maklum, abdi teh teu gahol.

Pokoknya, I love books. Yang sayangnya ga pernah dikadoin buku pas ultah #kodekeras (padahal ga ada yang dikodein).






Nyari e-book gratis,


Hana





P.s. I had a bad feeling. Later, crush came. And his ex came along. Not an ex anymore, huh?

P.s.s. I'm stil listening to Kenny G. like right now tho

P.s.s.s. Khotbah hari ini tentang "golden relationship". Tapi pak.... Relationshipnya ga ada pak....... *guling guling di pojokan*

Tuesday, February 18, 2014

[Lyrics] Sepatu – Tulus

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri

Kusenang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sangat ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa

Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Didekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu


***

lagu ini, entah kenapa, adalah lagu terkampret kedua di abad ini. lagunya bagus kok. cuma kampret aja liriknya.



no comment,

Hana

Friday, February 14, 2014

Espresso Rasa Latte | Another Fiction

Aku adalah penggemar setia kopi. Tiada hari kulewati tanpanya. Segala jenis kopi adalah teman baikku, baik itu buatan barista kafe yang secangkirnya berharga empat puluh lima ribu rupiah belum termasuk pajak, atau kopi sachet warung dengan harga tiga ribu rupiah saja segelasnya.

Yang biasa bertemu denganku di pagi hari adalah cappuccino dan cafĂ© au lait. Kenapa mereka? Karena, dari kecil aku terbiasa minum susu begitu aku bangun. Sulit rasanya meninggalkan susu ketika pagi. Sementara pada siang dan malam hari, aku terbiasa berjumpa dengan americano, iced coffee, dan teman-temannya. Biasanya aku berteman sangat baik dengan espresso saat aku sedang jenuh. Saat rasa kopi encer menjadi lebih manis dari kehidupan, sehingga secangkir double espresso hadir sebagai pengingat bahwa hidup itu masih lebih manis darinya.

Namun semenjak aku bertemu denganmu, aku menjadi sangat terbiasa dengan espresso di sepanjang hari. Pahit dan pekatnya espresso serasa lebih manis dan lebih nikmat daripada realita yang ada. Apalagi espresso yang ku minum ketika kita bersama. Kenyataan pun, seketika itu juga, menjadi sangat pahit. Percayalah.

Thursday, January 9, 2014

Tahi Rasa Coklat

Konon katanya, kalo orang lagi jatuh cinta, tahi pun jadi rasa coklat.

Gue akuin hal itu benar adanya.


Siang ini gue emang bener-bener lagi kesengsem sama Kamga. Do you know who he is? Yes, he is the black guy who likes to sing a lot. Duh, telat na lu baru ngefans sama dia sekarang. No, gue bukan ngefans sama dia duma karna dia nyanyi. Gue baru tau kalo dia juga.... nulis.

Asal lo tau, gue sangat tertarik sama seseorang yang 'membaca' dan 'menulis'. Seperti seseorang di masa lalu itu, yang sukanya baca buku Gadjah Mada yang pernah nyemangatin gue kuliah di UGM (oke stop) ya pokoknya yang itu hehehehe. Gue menganggap orang yang 'membaca' dan 'menulis' itu orang yang hebat dan keren. Mereka cerdas sekaligus nyeleneh. Kadang gayanya sengak sih. Tapi tetep. Gue selalu terkagum-kagum sama para 'pembaca' dan 'penulis'. Apalagi kalo cowok, karna jarang gue temuin cowok demen baca sama nulis. Oke maaf. Out of topic.

Dan gue baca tumblr nya Kamga. Ya gue gatau sih dia suka baca apa ngga, tapi gue asumsikan iya (karena selama ini gue pikir semua orang yang suka baca belom tentu suka nulis, tapi orang yang suka nulis sudah pasti suka baca) and I really like this guy. Beberapa tulisan dia bahkan ga cuma bikin gue ketawa-ketiwi, tapi juga ngangguk-ngangguk setuju. Malah bisa dibilang, gue nulis sekarang ini karena terinspirasi dari dia. Cahsik.

Nah back to the first sentence. Kenapa gue akuin hal itu benar? Karena saat ini tetangga sebelah yang kurang ajar itu sedang menyetel stereonya di volume yang bisa bikin setan tobat, and I'm just fine. Really. Gue ga misuh-misuh kaya biasanya. Dan suara dangdut tetangga, yang biasanya seperti tahi, kali ini terasa seperti coklat.



Kesengsem, apa kesemek juga boleh,

Hana

Tuesday, December 31, 2013

This December, Maybe?

this is december!

december is a great month, as always. no matter what happened, december should be the sweet one.

sayangnya kenangan 2012 merusak. #tsaah *lempar poni*

oke, ini desember 2013 na plis move on na plis.

well, desember 2013 bukan bener-bener desember yang asik bingit sih. natalan masih di Jogja. taun baruan masih di Jogja. dan masih sama mama semi stela. tapi ya..... sekarang tanggal 31 desember gue uas men. uas. uas. uas. tanggal 2 januari 2014 gue juga uas. uas. uas. baru kali ini :')

sekarang gue ngefans sama bruno mars (yang asli). terus gue tambah ngefans sama musicians, tapi sayangnya gue belom tambah gaul. tapi gue tetep keren, karena gue sekarang sudah menjadi bagian dari wong fei hung. gue adalah sang kungfu master. oke mungkin kalian bingung, tapi semua hal-hal wong fei hung ini akibat tugas kuliah. terlalu banyak membicarakan chinese dan mendengarkan ost filmnya wong fei hung. dan inilah saya. orang jawa yang kadang dikira cina mixed with batak, mencoba menjadi wong fei hung, dan kamu harus tau: gue sebenarnya sekarang ini adalah reinkarnasi dari orang cina dan bersaudara dengan ines. berhubung gue sekarang adalah wong fei hung, dan ines jago karate, mungkin di masa lalu keluarga kami adalah keluarga yang punya dojo dan semacamnya. keren.



THIS HOLIDAY


took a purple stripped shell
me and putri. look at how big i am :o
until now, i dont know who i was smiling to -_-
ombak jungwok! :3
going-home trekking. total jalan kaki hari itu adalah 2 km.
Gembira Loka Zoo!! Finally :)
the cute little lonely hippo is just sad..
Brother and sister. ketjoep!
ga terasa udah punya tiga buku meg cabot dalam satu semester. yang satu english version loh muehehe
menguburkan kucing kecil hitam yang lucu sama zia dan hafid :(
i dont know what to call this. almost-perfect clear sky, maybe?
i left my phone for 15 minutes and i got this
mother and daughter ^_^

i love december! as always :))))




loving december,


Hana

Monday, November 25, 2013

The Epic November, As Always


Sebelom bulan November keburu basi, saya mau posting tentang beberapa hal kecebur got di bulan gaul ini.

Hal pertama: makrab ditunda sampe bulan Desember! Gila kurang keren apa coba. Padahal kepanitiaan udah ada dari liburan dan tiga bulan panitia tidak menghasilkan apa-apa. Sudrung.

Hal kedua: SFC. Yep, SFC. Bukan, bukan Smansa Futsal Club. SFC adalah akronim dari Sensei Fans Club hahahahaha mari kita beri sambutan yang meriah bagi sahya, sang pendihri klub ini! Yiha! *tepuktangan* *naikkuda* Kenapa Sensei? Karena Sensei adalah guru Bahasa Jepang kami yang tercinta yang garing dan jayus, yang umurnya 23, yang udah nikah, yang udah punya anak, yang ngga kayak bapak-bapak. Ini cowok impian Mimet banget pasti (?) Semoga Mimet cepat menemukan jodohnya seperti Sensei. Sejauh ini anggota yang resmi terdaftar adalah Winda. Semoga bulan depan anggota resmi SFC semakin bertambah, selalu baru setiap pagi, besar setia-Mu, Tuhan.

Hal ketiga: PANTAI!!!! YUHUUU akhirnya saya melancong ke pantai di Jogja, saudarah-saudarah! Dan tidak tanggung-tanggung, pantai yang saya dan Intan Zia Richard Hafid Bayu Dewa Rio datangi adalah Pantai Jungwok dan Pantai Wediombo yang JAUHNYA MINTA AMPUN, di ujung Wonosari. Kami berdelapan naik motor, dan perlu anda ketahui, hingga kini pantat kami masih menghilang. Mungkin jatuh ya di Bukit Bintang. Tapi, bok, pantainya emang keren. Abitch. Pasirnya putih, airnya beniiiiing dingin, sepi lagi. Padahal kami ke sana hari Sabtu loh. Oh iyah, saya punya saran. Kalo ke pantai itu pake sendal, jangan bertelanjang kaki. Saran ini diberikan atas pengalaman saya yang sejauh ini memiliki TUJUH luka gores di telapak kaki yang lumayan banget dalemnya, bikin sulit berjalan dan membuat sepre gue berdarah-darah kayak abis ada mutilasi. Kalo ngga bawa sandal, bisa beli dulu di Pantai Wediombo, karena di Jungwok belom ada warung setitikpun. Bener-bener pantai tok, wong kami aja parkir motor tepat di sebelah pohon bakau di tepi pantai. Dan satu saaran lainnya, pakai sunblock kalo ngga mau kulitnya kebakar :')

Pantai Jungwok!!!
Ombak di Jungwok yang sangat menawan. Lovely!
Penjajah pantai, minus Rio
Pantai Wediombo yang pasirnya lebih bersahabat :3


Hal keempat: tanggal 23. Yuhuuu kami ternyata menjajah pantai pada hari ke-23 di bulan ini. Sik asik. Sepatu satu-satunya yang layak buat kuliah diceburin di air laut, plus guenya di siram air laut, di lempar pasir. Selain itu juga dapet kejutan yang mengejutkan banget dari Nindi Octa Intan Devi. Love mereka banget XD



Welcome 19th!


Hal kelima: Wonosari rockssss. Really. Bukan cuma keren, tapi emang banyak batunya. Terutama di sungai di Gua Watu Joglo di Desa Wisata Plumbungan. Ya, saya menjajah Wonosari dalam waktu dua hari, di mana hari kedua adalah hari yang isinya trekking doang. Hari ini (senin) saya bolos kuliah (Maaf Ms. Erlin!) akibat badan njarem semua dan goresan yang kembali kemasukan pasir.

Sejauh ini, hal-hal tersebutlah yang membuat November istimewa.
Tapi belum ada yang bisa menandingi istimewanya kamu, Mas.




Menitip salam pada ombak untuk kamu yang teristimewa,


Hana



p.s. Gue dan Ines adalah kakak beradik beretnis China di kehidupan sebelum reinkarnasi. Sekian. Salam untukmu juga, saudara se-per-autis-an! :)

Thursday, October 3, 2013

Kamu. Semua Itu Kamu.

Kamu adalah matahari.
Kamu adalah secangkir kopi.
Kamu adalah sang badai.



Ya. Kamu adalah matahari. Kamu bersinar. Kamu menghangatkan. Kamu juga sanggup membakar semua orang yang mendekatimu. Kamu. Semua itu kamu.

Ya. Kamu adalah secangkir kopi. Kamu yang selalu menjadi sapa pagi hari paling mesra. Kamu adalah pemacu semangat paling awal, bahkan ketika matahari masih malu. Kamu juga kadang memberikan aku rasa pahit, yang membuat aku bangun. Kamu. Semua itu kamu.

Ya. Kamu adalah sang badai. Kamu membuat langit gelap gulita. Kamu membuatnya terlihat menyeramkan. Kamu menakuti orang-orang dengan gemuruh mu, dengan hujan mu, dengan angin mu yang menerpa tiada henti. Kamu juga sanggup membuat pelangi paling indah se-alam semesta. Kamu. Semua itu kamu.

Tetaplah menjadi matahari. Tetaplah menjadi secangkir kopi. Tetaplah menjadi sang badai. Dan aku akan tetap menjadi manusia. Pemujamu.

Thursday, July 18, 2013

Terbakar Matahari

Hari ini aku mendapat sebuah pelajaran
Entah berharga atau tidak
Tapi kabarnya, setiap yang telah kita pelajari itu berharga
Jadi aku hanya ingin berbagi pelajaran
Anyway. Kamu kenal matahari?

Iya. Matahari yang nggak pernah luput menyinari bumi. Pusat tata surya yang pertama kali diakui oleh Copernicus. Ituloh, yang warnanya orens. Tapi katanya sebenernya matahari itu warnanya bukan orens. Ya udah lah ya, bukan warna matahari kok yang pingin aku omongin.

Dulu aku punya dua matahari. Maksudnya, bukan matahari sebagai "pusat", tapi matahari dalam konteks bias. Matahari sebagai makna denotatif. Matahari ilusional.

Iya. Ilusional, karna aku berilusi bahwa matahari kedua itu nyata dan ada. Manusia yang aku umpamakan sebagai matahari, dan menolak mengingat sifat-sifat matahari yang lainnya.

Aku lupa, matahari itu bersinar. Pun sinar matahari membutakan setiap makhluk yang melihatnya dengan mata telanjang, atau dalam kata lain, terlalu mencintai matahari. Aku, kali ini, terbutakan oleh sinar dari matahari yang ku ciptakan sendiri. Karena itu, aku menjadi tidak mampu melihat lagi. Cahaya mega supra ultra menyilaukan matahari akhirnya bukan hanya membakar sayap Icarus; ia juga membakar mata hati ku.

Buta, tak bisa melihat. Maka dunia pun gelap; aku tak dapat menangkap cahaya apapun. Bahkan cahaya dari bintang terdekat, sahabat baik ku, tak sanggup ku baca. Padahal bintang itu memantulkan cahaya matahari. Ya walaupun tidak semua sinar ia pantulkan, namun harusnya aku bisa melihatnya.

Aku kini bisa dibilang setengah buta. Aku juga bisa dibilang seperti bintang jatuh. Tapi tahukah kamu bahwa bintang tidak pernah jatuh? Ia hanyalah sebuah meteor, batu yang terbakar dan bergerak menjauhi matahari; ke tempat di mana gravitasi menetap. Ya, aku menjauhi matahari. Aku telah jatuh ke sebuah planet yang dihuni manusia. Konon planet ini bernama Bumi. Dan, ya, aku telah terbakar oleh matahari. Panasnya tidak dapat ku tahan lebih lama lagi. Rupanya jarakku sudah terlampau dekat dengan matahari.

Maka sebagai meteor, aku pergi ke bumi waktu malam, di mana matahari sepertinya tidak akan pernah muncul. Aku berharap dengan begitu, aku tidak menjadi buta sepenuhnya lagi. Walau separuh, lumayanlah. Bisa melihat lagi, gitu loh.

Tapi, jeng jeng! Aku salah. Pantas saja perasaanku tidak enak. Ternyata kemana pun aku pergi, matahari akan selalu ada. Aku baru ingat; bulan juga memantulkan cahaya matahari ke bumi. Mengingat kenyataan ini, rasanya seperti dipaksa buta untuk kedua kalinya.

Ya. Hari ini, batu meteor yang tidak berdaya telah berhasil dibakar habis oleh sebagian kecil cahaya matahari yang dipantulkan oleh sang bulan purnama. Tamat.





p.s. Meteor terbakar bukan karna matahari membakarnya. Api berasal dari gesekan dahsyat batu dengan atmosfer. Jadi tertipulah kalian semua pada banyolanku. Ha.

Tuesday, June 18, 2013

One From My Suitcase

Mata itu indah. Sangat indah, bagai berlian yang dibuat oleh para malaikat dan diselimuti awan pelangi. Dan tajam, tentunya. Siap mengiris berlian yang lainnya.

Awang tidak pernah melihat mata seperti itu sebelumnya. Tidak di mantan-mantan kekasihnya, tidak juga pada gadis-gadis yang selalu mengejarnya. Kali ini ia terpana; terpana sampai ke sekujur tubuhnya. Dan sedetik setelahnya, rasanya ia mampu menyerahkan segala yang ia punya untuk gadis dengan mata berlian itu. Terutama hati dan jiwanya. Bahkan hidupnya, kalau bisa.

Lalu tatapan gadis itu berpindah tepat ke matanya dan mengucapkan beberapa patah kata. Awang tenggelam, namun suara-suara penginterupsi membuatnya kembali ke alam raya.

“Maaf Mas Awang, bisa kita mulai wawancaranya?”
***

Indira diam. Ia membiarkan temannya mengambil alih wawancara siang itu, karena ia hanya ingin mengagumi keindahan makhluk adam yang ada di layar perekamnya. Lelaki ini sanggup mengubah siang terik menjadi sore sepoi-sepoi dengan langit yang amat indah hanya dalam satu kedipan mata. Tanpa Indira sadari, kedua matanya tidak berpindah dari lelaki itu sejak mereka memulai sesi wawancara sampai akhirnya wawancara selesai dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya di tempat itu sehingga ia harus pulang.

Monday, October 8, 2012

Late Post

Sleepy and sick.

Dua kata yang sangat menggambarkan gue malam ini. Ngantuk, tapi nggak bisa tidur karna setengah tubuh gue yang mendadak menghangat dan berkeringat. Sakit, tapi nggak tau sakit apa. Tapi gue yakin gue sakit. Nahlo.

Mau cerita apa ya? Rasanya terlalu banyak.

Oke deh. Here we go.

***

Pertama, kuliah. Gue ga pernah ngebayangin rasanya kuliah sebelumnya, jujur aja. Nggak pernah kepikir. Maksudnya bukan nggak kepikiran bakalan kuliah, tapi kepikir rasanya menjadi mahasiswa dan menjalani kehidupan perkuliahan itu rasanya gimana. Sekarang udah ngerasain sih. Asik sih. Tapi sometimes I just want to jump back to the high school time. Terutama pas jam kuliahnya nanggung. Nanggung pulang dulu apa enggak. Lumayan loh bro, kalo jam sembilan lo selesai terus ada kelas lagi jam satu. Ngapain coba nongkrong di kampus empat jam bengong? Mentok-mentok ya di food court. Yah, kadang-kadang temen gue yang kerajinan sepedahan ke Pusat Pelatihan Bahasa apa sepedahan keliling kampus. Widih jauh gile. Gue? Cukup deh kemaren sepedahan pas PPSMB aja, sama jatohnya cukup sekali aja. Haha.

Kedua, teman. Well, finally I found some people which are asik diajak ngobrol. Walaupun gue kadang gak nyambung dan idiot (baca: me-lemot seperti Thessa) tapi mereka tetep menyenangkan. Kayak waktu itu coba, idiot banget gue. Abis makan bakso, ceritanya gue mau bayar. Dan ketika sampai di stand yang gue tuju, ternyata stand-nya kosong. Yak, kosong saudara-saudara. Gue langsung balik ke meja dan bilang ke mereka kalo stand-nya ga ada yang jaga. Dan kita semua berpikir, siapa yang tadi menyuguhkan baksonya? Dan you know what? Gue salah stand hahahaha. Ayo semuanya tertawakan gue haha *dilempar sandal*

Ketiga, Jogja. Ga nyangka aja ternyata ujung dari pencarian tempat kuliah ini berakhir di sini. Jogja. Kota kelahiran nyokap, mom’s childhood time town, city, yah you name it. Dan semakin gue mengenal kota ini, rasanya semakin banyak kisah yang ingin dikuak. Kuak? Kuak bukannya yang di makanan itu ya? Kuak sop. *ditampar pembaca* *mimisan* *ke Bethesda* *ke Galleria* *ngegaul* *postingan gagal*

Keempat, myself. Don’t ask me why I mention it here. Tapi gue ngerasa ada sesuatu di dalam tubuh gue yang minta di-issue-kan. I don’t even know what it is. Dan somehow, tubuh gue out of control dan manja. Kemaren aja udah dua kali ke dokter, ke lab udah sekali. Kan manja banget badan gue sekarang *ceritanya sedih*

Kelima, PPSMB. Well, apa itu PPSMB? Kalian semua asti bertanya-tanya apa itu PPSMB *sok tau* *dicekik pembaca* *ke Bethesda* *naik Trans Jogja* *turun di Taman Pintar* yak PPSMB adalah *mikir* Pelatihan dan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru *ngarang* yak, PPSMB tahun ini gue ngikutin tiga macem. Palapa, yang satu universitas, di mana gue ketemu Mas Nano, pemandu yang sangat baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung. Perfeksionis, yang pemandunya adalah Kak Vina dan Tri Something. Maaf kak, saya tidak bermaksud melupakan kakak, tapi saya beneran lupa. Nah, Perfeksionis ini PPSMB-nya Sekolah Vokasi UGM. Terus lanjut lagi dua hari berikutnya ada….. BSMB! Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya. Temanya “Indonesiaku, Rumahku”. Nah bisa ditebak kan acara PPSMB yang terakhir ini suasananya kayak gimana. Tradisional sekali mamen. Gue dapet kelompok sanggar namanya Istana Buton. Pemandunya adalah *jeng jeng* Kak Bella dan Kak Vita! Hiyeeeeh. Dan ternyata ya, dibalik muka Kak Vita yang sangar selama PPSMB itu tersimpan hati yang selembut pantat bayi unyuuuu. Dan semua komdis ternyata seperti itu uuuuu sampe aku nge-fans kan sama manusia-dengan-wajah-berambut itu haha.

Keenam, laper. Yak malem-malem begini, abis keringetan tanpa sebab, tiba-tiba gue laper. Serius. Ciyuss?? Miapah?? Miayam! *ceritanya jadi gaul*

***

That’s all I am on this night. Trying to keep writing, walau semuanya sudah berubah. Ya, berubah. Kamu, aku, keadaan, kesempatan, semuanya. Bahkan mungkin takdir. Ini semua karena Negara Api mulai menyerang, kawan. Kalian patut mengetahui hal yang sebenarnya.




Sleepy, sick, starving, peace, love, and gaul,


Hana



p.s. hey, I forgot to introduce my new superb ”best friend”, Dictionary. I bring it every time karna lupa ngeluarin dari tas :| (padahal sih emang males ngeluarin) yak saya anak Bahasa Inggris loh sekarang haha *gaya*



19092012

Sunday, August 26, 2012

Pinesti Nowadays

G: Nes kenal Abecede ga?
P: Sahabat SMP gue.
G: Demi? Anak bento dong?
P: Iyak
G: Nes dia kan..manntannya mantan gue
P: Hah? Siapa?
G: Apanya siapa? Yang manaa
P: Mantan lu emang siapa?
G: Eefgeha. Emang lo tau?
P: Gue gatau orangnya. Pas masuk SMA juga gue jarang banget contact Abecede.
G: Tapi lo tau mereka pernah jadian?
P: Nggak tau. Abis kalo urusan jadian Abecede itu rajin dan gaaanti terus.
G: Ahahaha tapi setau gue sama yang ini awet nes :3 tapi udah putus sih
P: Tetep lebih awet gue sama Arystian lah. Udah berantem badai berkali-kali masih jadian juga.
G: .... *hilangsinyal*

Saturday, August 25, 2012

Flying Away

My mind flies to that moment.

A moment when I just simply hug my mom and cry with her.

When finally she asked, "Kenapa? Kamu nggak kerasan to di sana?"


***


Simple question. Tapi bener-bener membuat gue berpikir "Sebenernya apa sih arti kerasan itu?"

Apakah itu jika kita merasa nyaman tinggal di suatu tempat?
Apakah itu jika kita merasa damai?
Apakah itu jika kita merasa bahagia?
Apakah itu jika kita merasa cukup?
Apakah itu jika kita merasa lengkap?
Apakah itu jika kita merasa sempurna?
Apakah itu jika tempat tinggal dekat dengan kampus?
Apa sebenarnya arti kerasan?


Berkali-kali gue mencoba memahami arti kerasan. Seperti apa kerasan itu? Dengan siapa kita bisa merasa kerasan? Kenapa kita bisa kerasan?



Salah satu tanya tanpa jawab yang gue temui kali ini. Dan terima kasih.

Terima kasih sudah menyumbangnya, mother. I love you.





Mencoba kerasan,


Hana

Reposting

ini aku tuliskan,
sebuah pengantar rasa

sarat akan harap, kau akan membacanya
sehingga nanti, ketika kau bertemu denganku,
aku tak perlu menjawab, pertanyaanmu.

cinta, seandainya saja bisa kau terima
tanpa harus menyudutkanku
seperti seorang terdakwa

kau anggap aku seorang kriminal
menuntut aku atas perasaanku
menyalahkanku atas hatiku

kau yang mencuri, sayang!
kau bawa hatiku, tanpa izin.

kau yang membunuh, sayang!
kau hancurkan hatiku, tanpa iba.

tak cukup nyali punyaku menghadapimu
maka aku, tuliskan ini.

aku mencintaimu.

hanya itu.
tak berharap balasan yang sama.
juga tak meminta apa-apa.


***

originally posted in sepuluhjemari.blogspot.com >>  THIS

Sunday, August 19, 2012

Tahu Diri

Halo. Terima kasih banyak sudah mau mampir di hidupku. Sudah cukup. Kehadiranmu, maksudku. Kau tahu, sekarang tidak ada lagi yang pantas dilanjutkan. Pergilah, menghilang saja. Kalau tidak, lama kelamaan aku akan menjadi tidak tahu diri. Aku akan dengan egois memintamu untuk tetap ada. Tetap eksis. Dan itu berarti gawat, karena aku tahu kau tidak akan bisa menepatinya.

Ok. So this is a song for you. Just for you. Aku sangat ingin menyanyikannya langsung, tapi aku tak bisa. Listen.

Oh I forget. This is the lyric, so please read. Thank you.



***


Tahu Diri
by Maudy Ayunda, from O.S.T Perahu Kertas. Originally written by Dewi "Dee" Lestari


Hai, selamat bertemu lagi

Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil
‘Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan s’gala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku t’lah berjanji
Menyerah…
Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil…

Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi…


***


I just wanna thank you.





Thanking,


Hana

Tuesday, August 7, 2012

Wise Girl

Indri.


Dari sekian juta orang di dunia ini yang bernama Indri, gue masih heran, kenapa yang bisa kenal dan sekelas sama gue itu Indri yang ini. Si Bocah Kecil malang yang koplak.


Pertemuan gue sama Indri nggak romantis atau bagus. Saat kelas X waktu itu adalah salah satu kejadian awkward yang pernah gue alami. Bayangin aja, lagi jalan sama Nisa ke podium, nyampe sana ada anak-anak cewek gitu. Kelas X juga. Beberapa temennya Nisa waktu di SMP. Emang sih beberapa ada yang gue udah kenal. Terus tiba-tiba ada yang sok kenal gitu, nyapa gue dengan sok riang dan sok asik dengan suara keras, “EH SHERLY!!”



Bayangin, bayangin! Iye gue tau rambut gue pendek emang. Gue juga tau emang gue sering dimirip-miripin sama Sherly. Tapi nggak segitunya juga kaleeeeeee manggil gue Sherly di hadapan anak-anak cewek di lapangan. Dan tampang gue kurang lebih begini:




Terang aja pada ketawa semua yang di situ. Untuuuuung, emang anaknya kayak bocah. Kalo enggak, beuh udah gimana tuh gue. Mau marah gimana, tapi mau ketawa kok juga gimana. Mau teriak “Kampret! Gue bukan Sherly!” tapi kok kayaknya kasar ya. Ga tega gue ngomong gitu sama bocah. Akhirnya ya itu, muka gue. Super bad poker face.


Yaudah, dari situ gue tau nama bocah ini Indri. Panggilannya Bocil. Bocah kecil. Alay. Nggak deng becanda.

Terus tiba-tiba pas kelas XI.... jengjeng. Gue sekelas sama dia! Pas pagi-pagi gue dateng, bangku udah pada bertas, dan tibalah gue di sana dengan awkward. Gak kenal siapa-siapa. Mukanya pada baru semuaaaaa sumpe rasanya waktu itu gue mau pulang aja. Dan di sanalah Indri nyapa gue karna ga punya temen sebangku. Akhirnya kita duduk sampe akhir tahun pelajaran. Dan saat masuk pertama itu, dia udah manggil gue dengan nama yang bener. Praise the Lord.



Udah tau belom sejarah kelas XI gue? Yah pokoknya begitulah. Si Indri ini, nggak tau kenapa, gue ngerasa bisa ngeluapin apa yang ada di pikiran gue ke dia. Gue sebel sama siapa, gue suka sama siapa, gue nggak suka sama siapa, dengan mudahnya gitu lho gue kasih tau ke dia. Ya istilahnya sih curhat. Dia juga suka cerita-cerita gitu ke gue. Dan dia adalah orang pertama yang tau rahasia pertama gue di kelas XI.


Gue nangis ke Indri. Curhat ke Indri. Beli puding di Indri. Jajan sama Indri. Cerita semuanya ke Indri. Stalking ditemenin Indri. Pokoknya dia bener-bener kayak tumpuan hidup gue selama kelas XI. Kenapa? Karna dia masih kecil, tapi lebih dewasa dari gue. Lebih bijak. Yah walaupun kadang emang suka ngawur banget (kayak bilang, “Kuda suka sama Hana!”. Iye gue tau itu ngawur banget) dan jayus.


Dia juga satu-satunya orang yang tetep optimis saat gue bener-bener ga punya harapan lagi sama kelas XI. Yang terus ngeyakinin gue kalo suatu hari nanti, entah kapan, kelas kita bakalan kompak. Dia orang yang selalu membuat gue napak lagi di tanah ketika pikiran gue udah jauh melayang ke kelas X. Yang selalu negur gue kalo gue udah terlalu jauh ngebandingin kelas. Walaupun kalo dipikir-pikir, gue sama Indri itu bener-bener jalan pikirannya harusnya beda banget; Indri pengurus ROHIS sementara gue pengurus ROHKRIS. Tapi pikiran kita yang jayus ini hampir selalu sejalan. Gue cerita tentang suka duka gue di kepengurusan dan dia pun begitu.


Bahkan sampe kelas XII, puncak ke-pesimis-an masa SMA gue, dia yang masih ada. Yang masih ngeyakinin gue, meracuni gue dengan ke-optimis-annya walaupun dia udah nggak sekelas sama gue. Dia masih menjadi sahabat gue yang asik, yang asli dan nggak palsu. Dia bahkan rela ke kelas gue yang jauh, padahal gue tau dia merasa sedikit enggan.


Gue nggak tau kenapa gue percaya sama dia. Dia salah satu orang tertulus yang pernah gue temuin. Walaupun dia masih kecil (setahun lebih muda dari gue men) dan polos, tapi dia tulus.




Terima kasih telah bersedia menjadi orang yang gue percaya, sahabat. Lo, gue, kita akan sukses bareng! Selamat menempuh kuliah, sahabat. Semoga kita tidak saling melupakan.


Puspasari.


Mellow,

Hana


ps. bonus foto yang ada Indrinya yuhuuuu

Abis ngerjain telor di depan XII IA  2 pas lagi semesteran haha -_-


Ini pas abis drama kelas sebelas

Sunday, July 29, 2012

Surf

Pinesti.


Saya selalu beranggapan, nggak ada kalimat atau kata-kata yang bisa dengan tepat mendeskripsikan manusia ini.


Dan setelah mencoba surfing sekaligus tanya-tanya jalan sama Uncle Google, bertemulah saya dengan sebuah blog. Pemiliknya bernama Marcell Siahaan.


Tak lama, saya bertemu dengan blog lain. Kali ini yang punya namanya Dee. Itu nama pena-nya. Konon katanya namanya yang sebenarnya adalah Dewi Lestari.


Dan setelah memutuskan untuk tenggelam dalam dua blog ini, saya menyimpulkan satu hal.


Ines. Entah. Dia mirip Marcell. Atau Dee.


Sorry, I don't know why, tiba-tiba pikiran itu menyeruak begitu saja.

Sekian.


Zanariasti.




Kebingungan,

Hana

Friday, July 27, 2012

Kasih Yang Paling Besar

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama. Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu.

Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, "Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?" Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak, ia akan meninggal!" Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.

Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah. "Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok." Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis. "Apakah sakit?" tanya dokter itu. Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu. "Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?", tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang! "Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!" Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?"

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya!


***

Pagi-pagi, nothing to do. Gue memutuskan untuk bongkar-bongkar laptop. Bukan, bukan gue lepas baut-bautnya terus gue ambil harddisk-nya. Gue ngorek-ngorek isi laptop ini, dan nemu cerita ini di salah satu folder. Gue inget ini gue ambil dari internet, dan sayangnya, sayang sekali, gue lupa mencantumkan asalnya. Mianhae, sang penulis asli. Aku sayang padamu. Sini aku cium. Jangan marah ya.




Masih ngebongkar laptop,


Hana



p.s. ceritanya mengharukan, isn't it? Gue suka banget sama cerita ini :") *muka unyu*