Hari ini aku mendapat sebuah pelajaran
Entah berharga atau tidak
Tapi kabarnya, setiap yang telah kita pelajari itu berharga
Jadi aku hanya ingin berbagi pelajaran
Anyway. Kamu kenal matahari?
Iya. Matahari yang nggak pernah luput menyinari bumi. Pusat tata surya yang pertama kali diakui oleh Copernicus. Ituloh, yang warnanya orens. Tapi katanya sebenernya matahari itu warnanya bukan orens. Ya udah lah ya, bukan warna matahari kok yang pingin aku omongin.
Dulu aku punya dua matahari. Maksudnya, bukan matahari sebagai "pusat", tapi matahari dalam konteks bias. Matahari sebagai makna denotatif. Matahari ilusional.
Iya. Ilusional, karna aku berilusi bahwa matahari kedua itu nyata dan ada. Manusia yang aku umpamakan sebagai matahari, dan menolak mengingat sifat-sifat matahari yang lainnya.
Aku lupa, matahari itu bersinar. Pun sinar matahari membutakan setiap makhluk yang melihatnya dengan mata telanjang, atau dalam kata lain, terlalu mencintai matahari. Aku, kali ini, terbutakan oleh sinar dari matahari yang ku ciptakan sendiri. Karena itu, aku menjadi tidak mampu melihat lagi. Cahaya mega supra ultra menyilaukan matahari akhirnya bukan hanya membakar sayap Icarus; ia juga membakar mata hati ku.
Buta, tak bisa melihat. Maka dunia pun gelap; aku tak dapat menangkap cahaya apapun. Bahkan cahaya dari bintang terdekat, sahabat baik ku, tak sanggup ku baca. Padahal bintang itu memantulkan cahaya matahari. Ya walaupun tidak semua sinar ia pantulkan, namun harusnya aku bisa melihatnya.
Aku kini bisa dibilang setengah buta. Aku juga bisa dibilang seperti bintang jatuh. Tapi tahukah kamu bahwa bintang tidak pernah jatuh? Ia hanyalah sebuah meteor, batu yang terbakar dan bergerak menjauhi matahari; ke tempat di mana gravitasi menetap. Ya, aku menjauhi matahari. Aku telah jatuh ke sebuah planet yang dihuni manusia. Konon planet ini bernama Bumi. Dan, ya, aku telah terbakar oleh matahari. Panasnya tidak dapat ku tahan lebih lama lagi. Rupanya jarakku sudah terlampau dekat dengan matahari.
Maka sebagai meteor, aku pergi ke bumi waktu malam, di mana matahari sepertinya tidak akan pernah muncul. Aku berharap dengan begitu, aku tidak menjadi buta sepenuhnya lagi. Walau separuh, lumayanlah. Bisa melihat lagi, gitu loh.
Tapi, jeng jeng! Aku salah. Pantas saja perasaanku tidak enak. Ternyata kemana pun aku pergi, matahari akan selalu ada. Aku baru ingat; bulan juga memantulkan cahaya matahari ke bumi. Mengingat kenyataan ini, rasanya seperti dipaksa buta untuk kedua kalinya.
Ya. Hari ini, batu meteor yang tidak berdaya telah berhasil dibakar habis oleh sebagian kecil cahaya matahari yang dipantulkan oleh sang bulan purnama. Tamat.
p.s. Meteor terbakar bukan karna matahari membakarnya. Api berasal dari gesekan dahsyat batu dengan atmosfer. Jadi tertipulah kalian semua pada banyolanku. Ha.
2019: All About Courage
7 years ago

0 komentar asoy:
Post a Comment