skip to main |
skip to sidebar
Saya ingin menangis.
Satu kalimat yang sebenarnya tidak terlalu bagus untuk mengawali sebuah paragraf baru. Tapi, inilah kenyataan yang sebenarnya. Saya ingin menangis.
Banyak hal di dunia ini yang ternyata tidak bisa dikendalikan. Terlalu di luar jangkauan. Bahkan untuk sekedar menyentuhnya sedikit pun saya tidak sanggup.
Banyak hal yang saya ingin utarakan. Rasanya, karena terlalu banyak, berjuta-juta postingan pun tidak akan sanggup menampungnya. Dan kini semuanya bergemuruh di dalam jiwa. Hei, tidak masuk akal. Berjuta-juta postingan saja tidak mampu menampungnya, apalagi pikiran, hati dan jiwamu yang secetek kubangan?
Mari kita telaah lagi, bagian mana yang membuatmu berkata, "Semua yang ingin saya sampaikan, tersimpan di dalam diri saya. Terlalu banyak untuk diucapkan,"
Oh, saya tahu! Yang mengatakan itu, pasti bukan dirimu! Pasti itu adalah secuil jiwamu yang merasa sombong dan mencoba terlihat tegar, lalu mengatakan kalimat itu dengan menangkat dagumu tinggi-tinggi. Atau jangan-jangan, itu berasal dari sepasang neuron di otak yang sedang korslet. Sambungannya tidak menyatu, sehingga neuron yang tugasnya "menyampaikan kenyataa" tersebut gagal melaksanakan tugasnya dan membuat otakmu kacau, sehingga efektormu menyampaikan hal yang sedemikian tidak masuk akalnya.
Ah, apa sih yang dari tadi ku bicarakan? Omong kosong. Tidak layak baca. Mana mungkin ada orang yang mengerti dengan apa yang kau katakan, Big Hana? Huh. Berpikirlah kembali. Setelah itu, bereskan laci-laci yang isinya berserakan itu di otakmu. Lalu kau berkaca dan tanyalah pada dirimu sendiri: Apa aku masih waras?
Terlalu banyak hal yang berkecamuk dan menginjak-injak perasaan, sehingga menimbulkan jejak kaki kegalauan yang samar. Benahi dirimu, Nak. Baru setelah itu kamu bisa memulai menulis lagi. Bereskan kamar dan rumahmu. Rawat ibumu hingga sembuh. Menabung untuk hal-hal yang diperlukan. Belajar, dan tingkatkan nilaimu. Jangan sedikit-sedikit lari. Sedikit-sedikit mencari perlindungan. Itu adalah ciri seorang pecundang. Seharusnya kau tahu akan hal itu.
Jangan lupa cari informasi tentang PTK. Lupakan hal-hal mengganggu di masa lalu. Bereskan persoalan keluargamu. Perbaiki hubunganmu dengan Tuhan. Ingat, badai pasti akan berlalu.
Ya Tuhan. Dulu aku pernah bilang nyesel masuk di kelas XI IA 1. Tapi sekarang engga, Tuhan. Aku sayaaaaaaaaaang banget sama mereka. Makasih Tuhan udah memberikan salah satu anugerah terindah ini untukku. Aku sayang mereka semua, dan sekarang aku sadar kalo aku ngga mau pisah dari mereka. Ampuni aku Tuhan kalo aku pernah ngomong hal-hal yang jelek tentang mereka. Aku nyesel, Tuhan. Aku mau mereka. Aku bener-bener sayang sama mereka, Tuhan. Ini bukan bohong. Aku pingiiiiiiiin banget ngerasain hari-hari kemaren yang udah kelewat bareng anak-anak kelas ini. Aku bahagia sama mereka. Aku pingin kita ngga pisah, Tuhan. Ya Tuhan, kenapa mesti ada pertemuan kalo pada akhirnya yang ada perpisahan? Aku nggak mau pisah sama mereka Tuhan. Udah cukup perpisahan sama temen yang kemaren. Aku nggak mau ada perpisahan lagi. Aku nggak mau sedih karena nggak bareng mereka.
Kapan lagi coba ngeliat Mail pacaran sama bolanya di kelas, bilang “Aku yang membidiknya”? Kapan lagi coba ngeliat Alam suram main gitar? Kapan lagi coba ngeliat Cipeh galak? Kapan lagi coba ngeliat Ani ngerjain KWN dengan rajinnya? Kapan lagi coba ngeliat Sifa ngerjain Utari? Kapan lagi coba ngeliat Dara lebay drama? Kapan lagi coba ngeliat Paung sok-sok steril? Kapan lagi coba ngeliat Haidar yang sekarang udah jago nge-bully orang? Kapan lagi coba ngeliat Indri gila dan di-bully? Kapan lagi coba ngeliat Jalu jualan sosis solo enak sambil nyanyi? Kapan lagi coba ngeliat Jo ngomong hal-hal yang menurut gue aneh tentang pascal? Kapan lagi coba ngeliat Karisa ngerjain BT? Kapan lagi coba ngeliat Kevin jalan dengan penuh gaya? Kapan lagi coba ngeliat Kholid menyombongkan kekuatannya? Kapan lagi coba ngeliat Egrin asik sendiri ngerjain soal apapun? Kapan lagi coba ngeliat Jay waktu radar makanannya bekerja? Kapan lagi coba ngeliat Fahmi ngomong dengan mukanya yang super duper senga dan menyombongkan ketinggiannya? Kapan lagi coba ngeliat Dio tiduran di tengah jembatan cinta, dan menyombongkan tangan kipernya? Kapan lagi coba ngeliat Dhika nggak sengaja nguping omongan orang? Kapan lagi coba ngeliat Nadiya nggak pake sepatu? Kapan lagi coba ngeliat Marsha di-bully dengan intensnya? Kapan lagi coba ngeliat Panca nyanyi-nyanyi di kelas? Kapan lagi coba ngeliat Pui mukanya merah? Kapan lagi coba ngeliat Qonita jadi toilet? Kapan lagi coba ngeliat Nanda ngomong jayus? Kapan lagi coba ngeliat Rizda dibenci sama Nadiya sama Utari? Kapan lagi coba ngeliat Rizka teriak-teriak nyuruh anak-anak nyapuin kelas? Kapan lagi coba ngeliat Indy dikatain surfer girl? Kapan lagi coba ngeliat Sindy nyari sesuatu di internet dengan begitu polosnya? Kapan lagi coba ngeliat Alvi ketawa-ketawa bareng Ani? Kapan lagi coba ngeliat Utari di-bully?
There is none like You,
No one else can touch my heart like You do,
I can search for all eternity Lord
And find, there is none like You.
There is none like You.
No one else can touch my heart like You do,
I can search for all eternity Lord
And find, there is none like You.
Your mercy flows like a river wide,
And healing comes from Your hand.
Suffering children are safe in Your arms,
There is none like You.
There is none like You, ( There is none like You, Lord)
There is none like You.
I can search for all eternity Lord,
There is none like You.
I can search for all eternity Lord,
There is none,( there is none,)
There is none Lord,
There is none like You.
More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/h/hillsong_united/#share