Saya ingin menangis.
Satu kalimat yang sebenarnya tidak terlalu bagus untuk mengawali sebuah paragraf baru. Tapi, inilah kenyataan yang sebenarnya. Saya ingin menangis.
Banyak hal di dunia ini yang ternyata tidak bisa dikendalikan. Terlalu di luar jangkauan. Bahkan untuk sekedar menyentuhnya sedikit pun saya tidak sanggup.
Banyak hal yang saya ingin utarakan. Rasanya, karena terlalu banyak, berjuta-juta postingan pun tidak akan sanggup menampungnya. Dan kini semuanya bergemuruh di dalam jiwa. Hei, tidak masuk akal. Berjuta-juta postingan saja tidak mampu menampungnya, apalagi pikiran, hati dan jiwamu yang secetek kubangan?
Mari kita telaah lagi, bagian mana yang membuatmu berkata, "Semua yang ingin saya sampaikan, tersimpan di dalam diri saya. Terlalu banyak untuk diucapkan,"
Oh, saya tahu! Yang mengatakan itu, pasti bukan dirimu! Pasti itu adalah secuil jiwamu yang merasa sombong dan mencoba terlihat tegar, lalu mengatakan kalimat itu dengan menangkat dagumu tinggi-tinggi. Atau jangan-jangan, itu berasal dari sepasang neuron di otak yang sedang korslet. Sambungannya tidak menyatu, sehingga neuron yang tugasnya "menyampaikan kenyataa" tersebut gagal melaksanakan tugasnya dan membuat otakmu kacau, sehingga efektormu menyampaikan hal yang sedemikian tidak masuk akalnya.
Ah, apa sih yang dari tadi ku bicarakan? Omong kosong. Tidak layak baca. Mana mungkin ada orang yang mengerti dengan apa yang kau katakan, Big Hana? Huh. Berpikirlah kembali. Setelah itu, bereskan laci-laci yang isinya berserakan itu di otakmu. Lalu kau berkaca dan tanyalah pada dirimu sendiri: Apa aku masih waras?
Terlalu banyak hal yang berkecamuk dan menginjak-injak perasaan, sehingga menimbulkan jejak kaki kegalauan yang samar. Benahi dirimu, Nak. Baru setelah itu kamu bisa memulai menulis lagi. Bereskan kamar dan rumahmu. Rawat ibumu hingga sembuh. Menabung untuk hal-hal yang diperlukan. Belajar, dan tingkatkan nilaimu. Jangan sedikit-sedikit lari. Sedikit-sedikit mencari perlindungan. Itu adalah ciri seorang pecundang. Seharusnya kau tahu akan hal itu.
Jangan lupa cari informasi tentang PTK. Lupakan hal-hal mengganggu di masa lalu. Bereskan persoalan keluargamu. Perbaiki hubunganmu dengan Tuhan. Ingat, badai pasti akan berlalu.
2019: All About Courage
7 years ago

0 komentar asoy:
Post a Comment