Tuesday, June 18, 2013

One From My Suitcase

Mata itu indah. Sangat indah, bagai berlian yang dibuat oleh para malaikat dan diselimuti awan pelangi. Dan tajam, tentunya. Siap mengiris berlian yang lainnya.

Awang tidak pernah melihat mata seperti itu sebelumnya. Tidak di mantan-mantan kekasihnya, tidak juga pada gadis-gadis yang selalu mengejarnya. Kali ini ia terpana; terpana sampai ke sekujur tubuhnya. Dan sedetik setelahnya, rasanya ia mampu menyerahkan segala yang ia punya untuk gadis dengan mata berlian itu. Terutama hati dan jiwanya. Bahkan hidupnya, kalau bisa.

Lalu tatapan gadis itu berpindah tepat ke matanya dan mengucapkan beberapa patah kata. Awang tenggelam, namun suara-suara penginterupsi membuatnya kembali ke alam raya.

“Maaf Mas Awang, bisa kita mulai wawancaranya?”
***

Indira diam. Ia membiarkan temannya mengambil alih wawancara siang itu, karena ia hanya ingin mengagumi keindahan makhluk adam yang ada di layar perekamnya. Lelaki ini sanggup mengubah siang terik menjadi sore sepoi-sepoi dengan langit yang amat indah hanya dalam satu kedipan mata. Tanpa Indira sadari, kedua matanya tidak berpindah dari lelaki itu sejak mereka memulai sesi wawancara sampai akhirnya wawancara selesai dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya di tempat itu sehingga ia harus pulang.

0 komentar asoy:

Post a Comment