Friday, February 14, 2014

Espresso Rasa Latte | Another Fiction

Aku adalah penggemar setia kopi. Tiada hari kulewati tanpanya. Segala jenis kopi adalah teman baikku, baik itu buatan barista kafe yang secangkirnya berharga empat puluh lima ribu rupiah belum termasuk pajak, atau kopi sachet warung dengan harga tiga ribu rupiah saja segelasnya.

Yang biasa bertemu denganku di pagi hari adalah cappuccino dan cafĂ© au lait. Kenapa mereka? Karena, dari kecil aku terbiasa minum susu begitu aku bangun. Sulit rasanya meninggalkan susu ketika pagi. Sementara pada siang dan malam hari, aku terbiasa berjumpa dengan americano, iced coffee, dan teman-temannya. Biasanya aku berteman sangat baik dengan espresso saat aku sedang jenuh. Saat rasa kopi encer menjadi lebih manis dari kehidupan, sehingga secangkir double espresso hadir sebagai pengingat bahwa hidup itu masih lebih manis darinya.

Namun semenjak aku bertemu denganmu, aku menjadi sangat terbiasa dengan espresso di sepanjang hari. Pahit dan pekatnya espresso serasa lebih manis dan lebih nikmat daripada realita yang ada. Apalagi espresso yang ku minum ketika kita bersama. Kenyataan pun, seketika itu juga, menjadi sangat pahit. Percayalah.

0 komentar asoy:

Post a Comment