Wednesday, November 30, 2011

How To Spell My Life? W-H-Y

Kenapa.

Sebuah kata yang nggak pernah bisa lepas dari pikiran gue.

Kenapa gue alergi debu?
Kenapa mama banyak tahi lalatnya?
Kenapa Deli pinter?
Kenapa SMA Negeri 1 Depok mesti di Jalan Nusantara?
Kenapa meja punya kaki?
Kenapa daun berklorofil?
Kenapa manusia nggak berklorofil?
Kenapa Shinichi sukanya sama Ran?
Kenapa ibu penjaga perpus selalu galak?
Kenapa ada renungan harian yang namanya Manna Sorgawi?
Kenapa Pak Kujang jadi guru KWN?
Kenapa cabe itu pedes, kenapa nggak manis?
Kenapa gue nggak bisa marah?
Kenapa gue harus ngalah?
Kenapa lo marah sama gue?

Terlalu banyak “kenapa” di kepala. Sampe miumet. Tapi, entah kenapa, “kenapa-kenapa” yang bikin gue mumet itu selalu muncul akhir-akhir ini. Kenapa “kenapa-kenapa” ini seneng banget temenan sama gue dan membuat gue bertanya-tanya. Kan. Kenapa lagi.

Tapi, ada beberapa pertanyaan yang menjadi hantu di sudut pikir gue, dan salah satu di antaranya adalah: kenapa lo marah sama gue?

Mungkin pertanyaannya sepele. Cuma empat kata gitu lho, apa susahnya sih? Nggak penting juga kayaknya. But somehow it made me mad. Hello, I’m here. Kenapa lo marah? Apa salah gue?

Unthinkable.

Ya gue tau, memang ada pertanyaan yang retoris, nggak memerlukan jawaban, bahkan nggak memiliki jawaban. Dan ada juga pertanyaan yang bahkan ketika kita tau jawabannya, jawaban itu out of logic. Nggak bisa dimengerti. Jawaban itu juga kadang nampar banget, kadang biasa banget. Ada jawaban yang membuat kita harus berpikir lebih dalam lagi lalu kemudian baru kita mendapat makna sebenarnya dari jawaban itu. Jawaban juga kadang membuat kita tersentuh.

Pertanyaan memang super. Kalo nggak ada pertanyaan, nggak mungkin ada jawaban kan? Haha pasti lo nggak ngerti maksud gue gimana. Yaudah si, masa lalu. *plak*

Banyak hal (atau jawaban) yang nggak bisa gue mengerti akhir-akhir ini. Hasil pertandingan Liga Smansa, hasil ulangan matematika Bu Siro, ulangan kimia, guru, dan kemarahan.

Kenapa akhir-akhir ini gue jadi cepet marah, padahal gue lagi nggak PMS?
Kenapa gue jadi marah sama Indah?
Kenapa gue kalo marah, gue malah nangis?
Kenapa ke-nggak-suka-an gue sama sesuatu bisa bikin gue marah?
Kenapa lo selalu marah sama gue?
Kenapa lo marah?

Gue nggak ngerti. Gue terlalu capek. Bahkan untuk menelaah pertanyaan gue kembali pun, gue nggak sanggup. Gue takut, gue akan tersesat di antara pertanyaan-pertanyaan gue itu. Gue takut kalo lama kelamaan, pertanyaan-pertanyaan dengan judul “kenapa” itu malah makin suka berteman sama gue, mempermainkan gue, dan akhirnya dia memeluk gue untuk selama-lamanya.

Gue cuma butuh jawaban jujur. Nggak peduli waktu gue nanya sama lo, pertanyaan itu akan penuh dengan air mata atau kebencian. Dan waktu lo jawab, gue akan sedih atau makin benci sama lo, gue juga nggak akan peduli. Kesedihan yang sekarang udah lebih cukup untuk gue bisa survive. Gue udah biasa sama yang namanya sedih.

Kenapa pertanyaan ini, pertanyaan kenapa-lo-marah, membuat gue menangis?

0 komentar asoy:

Post a Comment