Saturday, October 23, 2010

FBI Gadungan

Spada! Kembali lagi bersama saya Hana dan Noviandina dalam situs Tumber! Tukang Ember!

Kulonuwun. Permisi. Nyuwun sewu. Punten. Haduh dari tadi gue ngomong apa sih.

Naaah. Seperti yang sudah saya beritahu pada postingan yang sebelumnya, kali ini saya akan membahas kehidupan lampau gue. Masa di mana gue HAMPIR membuat sebuah klub semacam FPI FBI.

Pada masa kelas 5 SD gue waktu itu, gue sangat freak. Amat teramat sangat freak. Gila. Sama segala sesuatu yang berbau ketek kedetektifan. Dan semua itu gara-gara nyokap gue menyuguhkan gue minuman bacaan komik yang berjudul Detektif Conan. Dan nggak cuma itu aja. Waktu gue ngambek karena nggak ada komik Detektif Conan, dia malah ngebeliin gue komik Detektif Kindaichi, bukannya Crayon Shinchan atau Doraemon atau apalah gitu. Haduuuh.

Keinginan aneh gue itu tercetus setelah gue membaca komik yang nyangkut-nyangkut sedikit sama FBI. Lalu gue pun mengajak seorang teman gue yang bernama Marcella (nama samaran). Dan yang lebih anehnya lagi, dia mengiyakan ajakan gue. Dan hal yang paling sangat aneh, setelah seluruh isi kelas gue tau, mereka semua mendukung rencana gue dan beramai-ramai berkoalisi berpartisipasi.

Omigot. Well, saat itu gue kelas 5 SD yang sama sekali belum ngerti apa-apaan. Yang ada di otak gue waktu itu adalah bermain, bersenang-senang, bergembira, barnyanyi, bertepuk tangan, dan menari (ini orang ayan sakit jiwa apa anak playgroup ya?).

Namun, seperti yang telah anda ketahui, yak, rencana itu gagal dengan sukses. Kenapa? Iya, setelah gue mengobarkan keinginan gue dan meneriakannya kepada seluruh isi kelas yang sebenarnya sudah tau, mereka langsung saja berubah pikiran karena menurut mereka ide gue yang itu adalah ide yang paling absurd dan paling abstrak di antara semua ide-ide gue. Dan akhirnya, gerakan FBI kelas 5 SD gue pun bubar jalan hancur berantakan luluh lantak. Padahal baru aja gue dan Marcella akan membuat brosour dan selebaran tentang ide gue yang konon katanya sakitnya karna diguna-guna paling absurd dan paling abstrak itu.

Gue sama sekali nggak kecewa. Gue sadar kalo anak kelas gue waktu itu telah berbuat hal yang paling mulia. Mereka menyelamatkan hidup gue dari ancaman malu seumur hidup, mereka menyadarkan gue kalo ide gue adalah sia-sia adanya, dan terlebih lagi, mereka semua udah menyelamatkan hidup mereka sendiri dari kengerian yang akan timbul dan bumi pun gonjang-ganjing langit runtuh semua penderitaan yang akan mereka dapatkan bila mereka akhirnya ikut berpartisipasi. Groah!!! (jati diri terbuka mode: on)

Oh engga deng. Gue salah. Sebenernya yang ngedukung gue dari awal tuh cuma satu orang. Ya si Marcella itu. Udah gitu ya udah, kehidupan gue berjalan kembali lagi seperti sedia kala: nggak normal. Dan seorang Hana yang (dulu) hina ini memang sudah menjelma menjadi angsa putih (yak, silahkan muntah, dan sayangnya gue udah nggak jualan plastik lagi tapi jualan ember. Tapi nggak papa kan? Masih bisa dipake buat nampung muntahan lu kok, dua ratus rebu satu. Lebih murah kan dari pada plastik?).

Oke. Sepertinya waktu kita sudah habis, dan sekarang tibalah saatnya saya Hana dan Noviandina untuk pamit dari hadapan anda. Selamat pagi siang sore petang malam dan, sampai jumpa.

Oke neng? Bay bay.

Salam sumber waras.

0 komentar asoy:

Post a Comment