Thursday, June 24, 2010

(Nggak) Layak Disebut Review MMJ

Hola! Kembali dengan saya Hana dan Noviandina dalam acara… *jengjerengjeng* Sinden Sundul!

Oke. Cukup dengan ketidak warasan gue.

Jadi,

enaknya mulai darimana ya?

Oh iya, kita mulai dengan memperkenalkan diriku dulu (oh yeah, Na. Copycat abis lu najis amit-amit jabang kebo idiiiih).

Dan, gue semakin bingung kenapa akhir-akhir ini gue semakin tidak waras.

Apa lagi abis ngebaca bukunya Raditya Dika yang paling jadul: MARMUT MERAH MARUN JAMBU.

Oke. Sebenernya gue cuman pingin nge-review novel sang maha kambing yang terkenal itu.

Well, novel (apakah buku ini novel? Atau teenlit? Atau chickit? Atau silit? Ah saya bingung) ini secara keseluruhan, dengan tiga belas chapter didalamya, bagus. Hm? Apa? Duh maaf ya saya budi, budek dikit. Ooh, komentarnya standar? Ooh maaf ya saya bukan orang yang terlalu kreatif dalam hal kata-kata. Malah komentar itu sebenernya udah gue lebai-lebaikan. Aslinya tuh komen gue gini, “Ih wauw MMJ-nya Raditya Dika sangat menggugah hati gue untuk segera boker di kakus yang ada di empang yang penuh dengan ikan lele itu lho. Sepertinya ini dampak dari intensitas saya makan ikan lele yang nampaknya menjadi sangat menggugah hati gue untuk segera boker di kakus yang ada di empang yang penuh dengan ikan lele itu lho. Sepertinya ini dampak dari intensitas saya makan ikan lele yang nampaknya menjadi…” dan masih panjang lagi, dengan komentar-komentar yang nggak nyambung dan seret air walaupun sudah disiram
kata seperti yang sudah anda lihat di atas. Oke, stop. Jangan melihat ke atas anda, baik ke langit maupun ke langit-langit hanya karena mencari komentar saya karena anda hanya akan terlihat seperti orang gila.

Sepertinya sudah cukup basa-basinya karena sudah basah dan basi. Dan sekarang saya akan melanjutkan review ini. Hmm.

Naah. Kan di bagian atas postingan ini kan udah gue bilang tuh, bagus. Iya, emang bagus. Kata-kata di novel ini memberi gue inspirasi untuk langsung nulis review karena kalo engga gue udah keburu macet. Well, di dalem buku ini ada sepenggal-sepenggal kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal yang mungkin bisa lo pake juga. Buku ini juga (menurut gue) bisa jadi semacem buku yang penuh dengan filosofi, karena terkadang gue menemukan kata-kata yang sepertinya nggak bermakna tapi lewat penuturannya kalimat ini bisa manjadi berharga, seperti, “Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.” dan gue ngerasa ini juga kayak menceritakan sedikit kehidupan gue sebagai freak stalker. Ohmen. Apa? Lo nggak ngerasa kalimat tadi berharga? Yaah, elo mah. Kan gue udah bilang lo harus baca bukunya dulu, kalo engga lo ngga bakal tau gimana si Raditya Dika ini menuturkan kata-kata tadi lewat kisah kehidupan pribadinya. Aaah, teu gahol maneh ah.

Dari dulu emang gue udah suka banget caranya si Kambing ini nyeritain segala hal yang terjadi dalem idupnya dia. Dan sama seperti di novel-novelnya yang lainnya, gue juga kembali memfavoritkan Raditya Dika dalam penceritaan biografinya kali ini. Walopun orang-orang yang ngga suka pada bilang, “Hii ini orang kok lebainya setengah mampus sih? Malesin amat,” tapi gue tetep teguh dalam pendirian gue. Gue akan tetep memilih si Kambing Mutun yang gembel dan nista sebagai presiden Indonesia periode tahun 2012/2017! Yeah! Hidup Mutun! Groaaah!!! (Dan lama-lama gue membuka jati diri gue sebagai singa kudisan. Oke)

Dan tema MMJ adalah cuplikan hidupnya saat ia sedang terkana sindrom yang konon paling ditakuti oleh seluruh manusia di jagat raya ini: jatuh bangun aku mengejarmu namun dirimu tak mau mengerti cinta. Di sini digambarkan bagaimana proses dari kenal di twitter sampe jadian sama Shero. Juga cerita di mana cintanya sama sekali tak terbalas dengan Ina Mangunkusumo. Semuanya dibungkus apik dengan serentetan peluru kata-kata yang kreatif dan imajinatif. Apalagi cerita yang dia bikin klub detektif sama temen-temennya waktu dia SMP. Hal itu hampir sama banget kayak gue waktu kelas 5 SD. Tapi klub yang HAMPIR gue bentuk adalah klub semacem FPI FBI (silahkan muntah, dan oh, gue juga lagi jualan plastik nih tiga ratus rebu sekilo buat nampung muntahan lu).

Huahahaha. Buat apa gue membentuk klub yang seperti itu sodara-sodara? Yak, saya sendiri juga bingung. Hal itu adalah hal yang paling nggak terpikirkan oleh anak SD jaman gue waktu itu, karena mereka sangat ngepens sama yang namanya kartun paling gahol sedunia Minky Momo. Ohmeeeen. Dan, oke, lebih baik kita bahas ini di postingan selanjutnya. Benang merah!

Dan tibalah negeri ini pada era 70-an disaat mode berpakaian yang segala-jenis-atasan-dimasukkan-ke-dalam-bawahan saat dimana gue membaca chapter yang “How I meet You, Not Your Mother”. Jujur banget, gue kagum dan terharu sama Raditya Dika yang bisa pacaran sama idola gue dari kecil melakukan hal yang sedemikian rupa cuma untuk ketemu sang pujaan hati. Di situ kerasa banget feel-nya kalo dia sangat tidak ingin kehilangan momen di mana ia bisa berdua saja dengan sesosok wanita yang menjadi pujaan banyak orang terutama gue dan gue juga pingin bisa dinner sama Shero hatinya. Di sana juga ada cerita “Buku Harian Alfa” yang gue percaya sebenernya itu adalah sebagian dari curhatannya juga tentang mahkluk-makhluk yang ada di rumahnya (duh sotoy banget deh gue komen kayak udah tau banget gimana isi rumahnya hahaha).

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh mulai dari kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.” (Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, hal. 15, paragraf terakhir)

Dan sepertinya cukup sampai di sini postingan saya kali ini yang membahas tentang novel Raditya Dika yang hari Selasa 22 Juni 2010 kemarin saya beli bersama Ines di Gramedia Depok setelah membeli buku fisika bersama Dara di TM Bookstore berjudul Marmut Merah Jambu. Sekian dan terima kasih. Bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati anda, saya mohon maaf lahir dan batin (tuhkan gue baik banget belom lebaran aja gue udah minta maaf. Apa? Karena gue yang kebanyakan dosa? Duh lo jangan bongkar aib gue di sini dong. Hush hush. Anjir kan gue jadi malu ah).

Sekalian ngebantuin Raditya Dika promosi MMJ. AYO KAWAN SEMUA KAPTEN KITA DATANG BELILAH NOVEL TER-GRESS RADITYA DIKA YANG BERJUDUL MARMUT MERAH JAMBU DI TOKO BUKU TERDEKAT DAN DI TOKO BUKU KESAYANGAN ANDA! YEAH! GROOAH! (kembali menjadi singa kudisan)

Salam sumber waras.

//Now playing: Melepasmu – Drive//
//Playing Mode: Shuffle On//

0 komentar asoy:

Post a Comment