Oke. Cukup dengan ketidak warasan gue.
Jadi,
enaknya mulai darimana ya?
Oh iya, kita mulai dengan memperkenalkan diriku dulu (oh yeah, Na. Copycat abis lu najis amit-amit jabang kebo idiiiih).
Dan, gue semakin bingung kenapa akhir-akhir ini gue semakin tidak waras.
Apa lagi abis ngebaca bukunya Raditya Dika yang paling jadul: MARMUT MERAH
Oke. Sebenernya gue cuman pingin nge-review novel sang maha kambing yang terkenal itu.
Well, novel (apakah buku ini novel? Atau teenlit? Atau chickit? Atau silit? Ah saya bingung) ini secara keseluruhan, dengan tiga belas chapter didalamya, bagus. Hm? Apa? Duh maaf ya saya budi, budek dikit. Ooh, komentarnya standar? Ooh maaf ya saya bukan orang yang terlalu kreatif dalam hal kata-kata. Malah komentar itu sebenernya udah gue lebai-lebaikan. Aslinya tuh komen gue gini, “Ih wauw MMJ-nya Raditya Dika sangat menggugah hati gue untuk segera boker di kakus yang ada di empang yang penuh dengan ikan lele itu lho. Sepertinya ini dampak dari intensitas saya makan ikan lele yang nampaknya menjadi sangat menggugah hati gue untuk segera boker di kakus yang ada di empang yang penuh dengan ikan lele itu lho. Sepertinya ini dampak dari intensitas saya makan ikan lele yang nampaknya menjadi…” dan masih panjang lagi, dengan komentar-komentar yang nggak nyambung dan seret
Sepertinya sudah cukup basa-basinya karena sudah basah dan basi. Dan sekarang saya akan melanjutkan review ini. Hmm.
Naah. Kan di bagian atas postingan ini kan udah gue bilang tuh, bagus. Iya, emang bagus. Kata-kata di novel ini memberi gue inspirasi untuk langsung nulis review karena kalo engga gue udah keburu macet. Well, di dalem buku ini ada sepenggal-sepenggal kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal yang mungkin bisa lo pake juga. Buku ini juga (menurut gue) bisa jadi semacem buku yang penuh dengan filosofi, karena terkadang gue menemukan kata-kata yang sepertinya nggak bermakna tapi lewat penuturannya kalimat ini bisa manjadi berharga, seperti, “Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.” dan gue ngerasa ini juga kayak menceritakan sedikit kehidupan gue sebagai freak stalker. Ohmen. Apa? Lo nggak ngerasa kalimat tadi berharga? Yaah, elo mah. Kan gue udah bilang lo harus baca bukunya dulu, kalo engga lo ngga bakal tau gimana si Raditya Dika ini menuturkan kata-kata tadi lewat kisah kehidupan pribadinya. Aaah, teu gahol maneh ah.
Dari dulu emang gue udah suka banget caranya si Kambing ini nyeritain segala hal yang terjadi dalem idupnya dia. Dan sama seperti di novel-novelnya yang lainnya, gue juga kembali memfavoritkan Raditya Dika dalam penceritaan biografinya kali ini. Walopun orang-orang yang ngga suka pada bilang, “Hii ini orang kok lebainya setengah mampus sih? Malesin amat,” tapi gue tetep teguh dalam pendirian gue. Gue akan tetep memilih si Kambing Mutun yang gembel dan nista sebagai presiden Indonesia periode tahun 2012/2017! Yeah! Hidup Mutun! Groaaah!!! (Dan lama-lama gue membuka jati diri gue sebagai singa kudisan. Oke)
Dan tema MMJ adalah cuplikan hidupnya saat ia sedang terkana sindrom yang konon paling ditakuti oleh seluruh manusia di jagat raya ini: jatuh
Huahahaha. Buat apa gue membentuk klub yang seperti itu sodara-sodara? Yak, saya sendiri juga bingung. Hal itu adalah hal yang paling nggak terpikirkan oleh anak SD jaman gue waktu itu, karena mereka sangat ngepens sama yang namanya
Dan tibalah
“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh mulai dari kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.” (Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, hal. 15, paragraf terakhir)
Dan sepertinya cukup sampai di sini postingan saya kali ini yang membahas tentang novel Raditya Dika yang
Sekalian ngebantuin Raditya Dika promosi MMJ. AYO KAWAN SEMUA
Salam sumber waras.
//Now playing: Melepasmu – Drive//
//Playing Mode: Shuffle On//

0 komentar asoy:
Post a Comment