Monday, December 26, 2011

It's About Christmas

Tiba-tiba sangat tergerak untuk menulis.

***

First, I just wanna say HAPPY CHRISTMAS FOR EVERYONE!! I’m glad and happy to say it. Oh please please this is Christmas, dude.

Entah kenapa pingin banget nulis tentang lagu ini. Have you ever read the lyric of this song?

We Were (Are) The Reason

Verse 1
As little children we were dream of Christmas morn
And all the gifts and toys we knew we'd find
But we never realized, a baby born one blessed night
Gave us the greatest gift of our lives
Verse 2
As the years went by, we learned more above gifts
And giving of ourselves and what that means
In a dark and cloudy day a man hung crying in the rain
Because of love, because of love
chorus
We were the reason that He gave His life
We were the reason that He suffered and died
To a world that was lost He gave all He could give
To show us a reason to live

(Indonesian version)

Waktu kecil kita merindukan natal
Hadiah yang indah dan menawan
Namun tak menyadari Seorang Bayi telah lahir
Bawa kes'lamatan 'tuk manusia

Waktu pun berlalu dan kita pun tahu
Anug'rah yang besar dari Bapa
Yang relakan AnakNya disiksa dan disalibkan
Di bukit Kalvari kar'na kasih

Reff:
Karena kita Dia menderita
Karena kita Dia disalibkan
Agar dunia yang hilang
Diselamatkan dari hukuman kekal


Sooooo, what’s about this song? What’s wroooong?
Nope. There is nothing wrong.

Gue hanya ingin menceritakan bagaimana gue tersentuh oleh kalimat-kalimat di lagu ini yang dinyanyikan dengan sedemikian rupa.

Actually gue lebih suka English Versionnya. Why? Karena artinya lebih dalem.


As little children we were dream of Christmas morn
And all the gifts and toys we knew we'd find
But we never realized, a baby born one blessed night
Gave us the greatest gift of our live

Waktu kita masih kecil, kita selalu membayangkan pagi Natal, di mana hadiah bertebaran di bawah pohon Natal dan banyak mainan. Tapi kita nggak menyadari, kalo the real greatest gift itu datang dari seorang Anak Kecil yang lahir di Betlehem, dalam kain lampin dan terbaring di palungan dalam kandang domba. Dialah Yesus. Ia membawa keselamatan bagi umat manusia sebagai hadiah terbesar bagi manusia itu sendiri.


As the years went by, we learned more above gifts
And giving of ourselves and what that means
In a dark and cloudy day a man hung crying in the rain
Because of love, because of love

Waktu pun berlalu, dan kita pun tahu. Kita mengerti, kita belajar lebih banyak tentang memberi, dan juga belajar tentang memberi diri kita dan bagaimana kita mengartikannya. Memberi diri untuk hadiah, memberi diri untuk hal-hal dan orang-orang yang kita kasihi, atau bahasa halusnya, berkorban. Sama seperti Yesus yang memberi Diri-Nya disalib dengan satu alasan: love. Kasih. Cinta. Kasih-Nya kepada siapa? Kepada manusia.


We were the reason that He gave His life
We were the reason that He suffered and died
To a world that was lost He gave all He could give
To show us a reason to live

Kita adalah alasan mengapa Dia memberikan hidup-Nya. Karena kita Dia bersedia menderita dan menanggung semua dosa manusia, dosa-dosa yang tidak pernah Ia perbuat setitik pun. Kita adalah alasan mengapa Dia menderita, disiksa, disalibkan, dan akhirnya mati. Dia rela melakukan semuanya itu untuk dunia yang hilang. Dunia yang sudah penuh cemar. Karena kasih-Nya pada dunia, Ia memberikan semuanya yang bisa Ia berikan. Supaya dunia yang hilang bisa menerima janji keselamatan Bapa. Ia menunjukkan kepada manusia yang tadinya udah ga punya alasan untuk hidup, kalo kita masih punya a reason to live. Untuk menyenangkan hati Bapa. Untuk mengucap syukur atas janji keselamatan yang udah kita peroleh, bersamaan dengan matinya Yesus di kayu salib dan bangkitnya Ia pada hari yang ketiga.



***

Inilah Natal. Natal bukan tentang merayakan hari ulang tahun Yesus, tapi tentang bagaimana Yesus lahir ke dalam dunia, turun menjadi manusia supaya manusia menjadi manusia. Natal adalah tentang bagaimana keinginan Allah untuk berbagi, sehingga Ia menurunkan Anak-Nya yang tunggal. Mari, kita resapi kembali makna Natal yang sebenarnya. Kita belum merayakan Natal, selama kita belum mengalami Natal itu sendiri. It’s about giving ourselves sebagai persembahan yang hidup dan berkenan, sebagai ibadah yang sejati, sebagai ucapan syukur kita.



So, let Him in. Sudahkah Yesus lahir di dalam hatimu?





Terpesona kasih Tuhan,


Hana

0 komentar asoy:

Post a Comment