Wednesday, March 2, 2011

The (Next) Writer's Notebook *Amen* #1

Suara pantulan bola basket terdengar dari sini, sementara gelak tawa memenuhi ruangan. Dengan kalimat gurauan berseliweran diantaranya, dihiasi dengan mimik-mimik lucu. Sebagian lainnya terdiam, menyingkir dari keramaian, bosan dengan kata-kata munafik yang mencuat tersirat. Wangi aroma makanan tercium, menggugah hasrat untuk makan dan menjadi tidak terkendali. Ada juga yang bergerombol, saling bercerita rahasia, baik rahasia diri sendiri maupun orang lain dengan penuh seringai yang tak terbaca, membuat iri dan memunculkan rasa keingintahuan yang meledak-ledak. Masing-masing orang sibuk melakukan kegiatannya masing-masing. Tidak banyak yang peduli dengan apa yang sedang aku lakukan. Beberapa asik mengerjakan tugas. Seseorang tidur dengan tenang, dan... aku sendirian. Kasarnya kesepian ini menggerus sampai hatiku iritasi. Sapaan mereka terdengar sangat manis, tapi semuanya terasa hambar. Aroma menyedihkan menguar kuat dari sini; dari lubuk hati yang paling dalam. Luka lama yang tidak pernah dijahit sehingga membusuk, namun kesenangan-kesenangan semu menutupi luka itu dengan bau yang harum, sehingga aroma tadi tersamarkan. Jarang ada yang mengunjungi daerah ini; bahkan sekedar lewatpun enggan. Luka ini menganga dengan pintu gerbang yang terbuka lebar, seolah menunggu siapapun untuk datang dengan niat tulus dan membersihkan luka ini. Tapi tidak seorangpun tahu pasti penyebab luka yang kini memerah kembali, termasuk aku sendiri.


Samar, suara gitar menyusup halus. Ternyata ada juga orang mencoba menikmati hidup dengan bermain musik. Dan kemudian satu ingatan memaksa keluar. Dulu aku juga begitu. Tiba-tiba saja rasa kangen itu membludak, melesat dengan cepat seperti roket. Suasana ini membawa ingatanku berjalan-jalan ke masa lalu, saat dimana aku dan mereka selalu bernyanyi dan bersenang-senang tanpa ada pembeda berarti yang membentang.


Detik-detik menuju ujian nasional. Aku ingat sekali. Seperti baru terjadi kemarin, dan raasanya masih hangat. Minggu tenang diberlakukan untuk kami, memaksa kami untuk tidak memasukkan pikiran frustasi agar tidak mendesak keluar pelajaran yang kami terima secara intensif satu tahun ini. Dan benda itu ada di sana; sebuah gitar yang sangat menggoda, seolah memanggil untuk dimainkan. Tanpa menunggu waktu lama, kami segera mengambilnya dan bersukacita karena kehadirannya. Benda itu menjadi sumber kebahagiaan kami saat itu. Amatiran seperti aku jarang menggunakannya; aku hanya menonton saja dalam kerumunan euforia itu. Tidak disangka, begitu mendengar benda ini dipetik aku langusung terbuai dan melebur di keramaian yang entah kenapa sangat membuatku nyaman. Tetes demi tetes air mulai merembes keluar dari pelupuk mata. Siapa sangka kalau hari itu akan ada hujan—hujan air mata?

Dan pikiranku pun terseret kembali ke dunia nyata. Waktu tidak mengijinkan aku untuk berlama-lama tinggal dan meresapi memori itu. Hampir saja sebulir air mata mengalir. Namun, tidak. Tidak boleh. Inilah hidupku sekarang, tempatku berpijak dan yang harus aku telusuri. Hati dan pikiran boleh saja rindu masa lalu dan rasanya seolah ingin kabur, tetapi dunia tidak. Seperti pepatah bilang, the show must go on. Tidak ada alasan untuk memberi kesempatan pada masa lalu supaya tinggal sebentar, karena jika dibiarkan kelamaan, masa lalu akan keenakan lalu menetap dan membuatku lupa bahwa aku sedang menyusuri masa kini, bukan masa lalu.

0 komentar asoy:

Post a Comment