Terjerumus dalam sunyi hampa.
Aneh, tak dapat ku tatap pupil itu.
Kau hanya membatu.
Tak tahu apa di balik semburanmu.
Yang ku tahu diri ini sedang merindumu.
***
Puisi ini yang nulis Uzi. Anjay. Dalem banget sampe menusuk ke hati. Judulnya "Perayaan". Entah kenapa...valid.
***
Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya melihatmu tertawa dari kejauhan, dengan rambutmu yang hitam berkilau di bawah sinar lampu.
Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya melihatmu setelah enam puluh hari yang kuhabiskan untuk mengkhawatirkan dirimu.
Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya berdoa agar Tuhan selalu menjagamu, dan betapa leganya diriku ketika aku mengetahui bahwa Ia telah mengabulkan doaku.
Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya melihatmu ketika aku tahu bahwa kita memiliki kehidupan kita masing-masing, di jalan yang berbeda.
Sekarang aku mengerti betapa indahnya jika semua ini tetap tak terungkap, selamanya terkubur dalam-dalam.
***
Tulisan ini yang nulis gue, sekitar tiga tahun yang lalu. Iya gue tau jelek. Tapi entah kenapa...valid. Kecuali bagian harinya sih. Dan rambutnya.
Jadi memang sebaiknya terkubur dalam-dalam ya.
Kembali mengerti,
Hana

0 komentar asoy:
Post a Comment