Friday, February 22, 2013

[PUISI] Deklarasi

Dalam hati
Diam-diam aku telah berjanji
Di sana aku bilang, tidak akan pernah membicarakanmu lagi
Dada ini tidak akan berdegup kencang lagi ketika mendengar namamu
Damai pun akan pura-pura tidak kurasakan bersamaan dengannya
Dedaunan kering yang mengingatkanku padamu juga akan kusapu bersih
Dekapan memori itu akan kulepaskan

Dalam hati
Deklarasi janji telah terpahat rapih di atas marmer kepedihan
Delegasi perjanjian itu hanya aku dan rasa pincang
Duka dan dingin yang melebur jadi satu
Dengan bekas luka menjadi saksi dari kesepakatan ini
Demikianlah kami, aku dan rasa pincang, berjabat tangan tanda setuju

Dengki dan dendam tidak ada dalam perjanjian ini
Hanya bekas luka
Dan perban yang usang.
Halte yang dulu ternyata masih ada
Dia berdiri; menunggu dengan setia, menaungi bekas luka
Hingga ia sembuh dan siap meneruskan perjalanan

Aku dan rasa pincang dilarang menunggu di halte yang sama
Kami harus membuat halte yang baru, katanya
Ini adalah dampak dari perjanjian yang telah dipahat
Maka
Dengan tertatih dan ditemani rasa pincang
Aku membangun halte yang baru
Dan berharap aku tidak dituduh melanggar kesepakatan
Karena bibir yang tak mampu berkata-kata
Juga mata yang masih tak berkedip
Ketika kau melewati halte ini

0 komentar asoy:

Post a Comment